BACKSTREET; Petualangan Santri Kepo (Part 4)

BACKSTREET; Petualangan Santri Kepo (Part 4)
Arin meninggalkan Faiq, ada rasa menyesal dari diri Arin namun ketakutan lebih menguasai hatinya. Faiq senyum senyum sendiri melihat Arin menjauh darinya sepertinya Ia punya rencana untuk mengungkap kebenaran pada diri Arin

JAGATKITASAMA.COM – Hari hari berlalu mereka lalui dengan terus belajar bersama baik di rumah maupun di sekolah di sela sela jam istirahat, Jika biasanya di sekolah Faiq terasa asing di mata Arin kini mereka bukan orang asing lagi bahkan lebih akrab. Dan keakraban tersebut menimbulkan rasa yang berbeda dalam diri Arin, rasanya ia telah jatuh cinta sama Faiq, tapi dia sadar kalau Nella teman dekatnya sampai saat ini masih sayang sama Faiq, dan Faiq juga pernah bilang kalau sudah ada cewek lain yang dia suka meski Ia merahasiakannya, karena penasaran Arin pun mencoba menanyakan hal itu kembali.

“Faiq!” Panggil Arin saat Faiq tengah mengerjakan soal latihan di kelas saat jam istirahat, ya hanya ada mereka berdua di kelas karena yang lain pergi ke kantin.

Bacaan Lainnya

“Ya!”

“Boleh Aku tanya sesuatu?”

“Tanya saja.” Kata Faiq sambil tetap mengerjakan soal tanpa menatap wajah gadis yang mengajaknya bicara.

“Tentang cewek yang Kamu suka.”

“Memang kenapa?” Tanya Faiq masih tak memperdulikan Arin dan enak mengerjakan soal.

“Aku penasaran, siapa cewek itu?”

Mendengar pertanyaan itu Faiq menghentikan aktifitasnya, di tatapinya gadis yang ada di sampingnya, rasa penasaran membuat mata gadis itu seakan menyembunyikan sesuatu yang enggan tuk di uraikan.

“Apa Kamu benar benar ingin tahu?”

“Ya.”

“Apa Kamu bisa menjaga rahasia?”

“Maksud Kamu?”

“Jika Aku kasih tahu, Kamu tidak akan membocorkannya sama Ajeng dan yang lainnya kan?”

“Baiklah, tapi siapa gadis itu?”

“Kamu!”

“Hah, Aku?”

“Iya.”

“Kamu pasti bercanda kan?”

“Tidak. Kamu adalah gadis yang Aku suka Rin”

Arin terlihat salah tingkah, matanya enggan tuk menatap Faiq. Ia mengambil pensil dan merebut kertas latihan yang ada di depan Faiq seolah hendak mengerjakannya meskipun sebenarnya tidak.

“Kenapa? Apa Kamu tidak percaya kalau Aku suka sama Kamu.” Kata Faiq meyakinkan, Arin semakin salah tingkah tak tahu mesti apa, soal soal yang ada di hadapannya seakan berubah menjadi sandi sandi yang tak terbaca hingga membuatnya kesulitan untuk mengerjakannya.

“Arin!” Panggil Faiq karena di lihatnya dari tadi Arin hanya memandangi soal dan tak mengerjakannya sama sekali, ada yang benar benar di sembunyikan oleh Arin tentang perasaannya sama Faiq mungkin.

 Tersadar dengan panggilan Faiq, Arin pun meletakkan pulpennya.

“Aku ke kantin dulu ya, Aku haus.” Kata Arin tiba tiba dan beranjak dari tempatnya, ada yang ingin di katakan Faiq namun kata katanya tertahan karena Arin keburu meninggalkannya.

 Arin tak tahu meski ngapain tentang pernyataan Faiq tadi, tak kan lah ia akan mengatakan kalau ia juga suka sama Faiq. Akankah Ia memilih memendam perasaannya atau mengungkapkannya di saat yang tepat.

***

Lomba kompetisi tinggal seminggu lagi, kali ini bu Anggun memberikan soal latihan sendiri sendiri pada Faiq dan Arin dan harus di kerjakan di sekolah saat istirahat atau pulang sekolah.

Bu Anggun melihat ada yang berbeda pada diri Arin, hal itu beliau lihat dari soal soal latihan nilai Arin justru turun dratis padahal dia di kenal sering juara kelas.

“Arin, Kamu kenapa? Apa Kamu lagi ada masalah?” Tanya Bu Anggun ketika Arin dan Faiq berada di ruang guru, sengaja bu Anggun memanggil mereka mengingat lomba kompetisi tinggal beberapa hari lagi.

“Tidak ada bu.” Jawab Arin dengan wajah menunduk, Faiq mulai membaca gelagat Arin, Ai pun berpikiran yang sama dengan bu Anggun bahwa Arin sedang tidak baik baik saja ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.

“Kalau memang benar, kenapa nilai Kamu turun seperti ini.”

“Tidak tahu bu.” Kata Arin masih dengan wajah menunduk.

“Tak biasanya Kamu seperti ini, jika memang Kamu ada masalah cerita saja sama Saya, mungkin Saya bisa bantu.”

“Iya bu terimakasih.”

“Ya sudah kalian bisa kembali ke kelas.”

Faiq dan Arin pun keluar ruangan, saat di perjalananbmenuju kelas, Faiq membisikan sesuatu di telinga Arin.

“Aku tunggu nanti sore di jembatan.”

Belum juga mendapat jawaban darinya, Faiq sudah nyelonong mendahuluinya meninggalkannya di belakang. Arin melihat Faiq melangkah menjauhinya hingga memasuki kelas.

 Sore harinya, sesuai yang di katakan Faiq saat di sekolah Arin pun menemui Faiq di jembatan.

“Sebenarnya Kamu kenapa sih?” Tanya Faiq membuka suara setelah beberapa saat mereka hanya terdiam.

“Tidak ada.”

“Bohong.”

“Untuk apa?”

“Jika memang dugaan ku benar, Aku bisa bantu Kamu.”

“Bisa bantu apa Kamu?”

Faiq memegang ke dua bahu Arin, menariknya hingga membuat mereka saling berhadapan.

“Tatap mataku Rin.”

“Ada apa dengan matamu.”

“Ada Kamu.”

Arin menangkis kedua tangan Faiq yang masih menemlel dan mengenggam erat kedua bahunya, Ia menghembuskan nafas, menatap hamparan samudra dan ratusan perahu layar berjejer di sana.

“Jangan bercanda Iq.”

“Aku serius, Kamu suka sama Aku kan?”

Arin menatap mata Faiq tanpa di suruh bahkan lebih dalam, ada kebenaran yang di ungkapkan Faiq, namun ada rasa takut dalam diri Arin untuk mengakui kebenaran itu.

“Tidak.”

“Kamu jangan bohong Rin.”

“Aku tidak bohong.”

“Yang bener?”

“Sudahlah Iq, buang buang waktu saja, Aku mau pulang.”

Arin meninggalkan Faiq, ada rasa menyesal dari diri Arin namun ketakutan lebih menguasai hatinya. Faiq senyum senyum sendiri melihat Arin menjauh darinya sepertinya Ia punya rencana untuk mengungkap kebenaran pada diri Arin. (Arinal Haqiqoh)

Pos terkait