BACKSTREET; Petualangan Santri Kepo (Part 6 Akhir)

BACKSTREET; Petualangan Santri Kepo (Part 6 Akhir)
Mereka pun tertawa bersama sampai senja mulai menampakkan wajahnya, saat hendak melangkah pulang pandangan mereka tertuju pada warung bakso di pinggir jalan yang menjadi langganan mereka. Adegan terakhir yang dilakukan oleh ketiga remaja untuk menjalin persahabatan dalm kisah santri kepo.

KITASAMA.OR.ID – Faiq terlihat tengah bergurau dengan Nella di bangkunya saat pelajaran belum di mulai, benteng Arin mulai retak tapi Ia masih mencoba menahannya hatinya benar benar sakit tiap kali melihat Faiq dan Nella bersama.

“Rin, Kamu baik baik aja kan?” Tanya Ajeng karena melihat teman sebangkunya sepertinya sedang ada masalah.

Bacaan Lainnya

“Entah lah..”

“Kamu sakit?”

Arin mengusap usap wajahnya, memijat mijat keningnya mencoba menahannya tapi percuma ia tak bisa.

“Jeng, Aku ke toilet sebentar ya..”

Arin beranjak dari tempat duduknya, berlari keluar kelas, karena tak ingin ada sesuatu yang terjadu dengan sahabatnya Ajeng pun mengikutinya dari belakang.

Seisi kelas melihat adegan itu termasuk Faiq.

 Benteng pertahanan Arin benar benar runtuh, kelopak matanya tak henti hentinya mengeluarkan gas air mata, hatinya semakin sakit saja saat Ia meluapkannya dengan tangisan.

“Rin…Arin…Kamu tidak apa apa kan?” Teriak Ajeng dari luar sambil mengedor gedor pintu toilet, mendengar teriakan Ajeng, Arin segera mengusap wajahnya dengan air dan mencoba menghilangkan tanda merah yang melekat di matanya.

 Ajeng kembali ke kelas sendirian, dan pelajaran belum juga di mulai atau memang gurunya telat masuk kelas.

“Jeng, Arin mana?” Tanya Nikma ingin tahu

“Dia ada di UKS, tadi dia mengeluh sakit kepala.”

Bersamaan dengan berakhirnya penjelasan Ajeng, pak Hasan memasuki ruang kelas dan pelajaran segera di mulai.

Di tengah tengah pembahasan pelajaran, Faiq berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju tempat pak Hasan berdiri.

“Pak, Saya mau ijin ke belakang sebentar.”

“Iya, silahkan.”

Faiq segera keluar kelas tapi Ia tak menuju toilet, Ia melangkah menuju ruang UKS di mana Arin berada. Sampai di depan ruang UKS Faiq langsung membukanya tanpa mengetuk dulu dan memasukinya.

Mengetahui kedatangan Faiq, Arin pun terkejut dan langsung bangun.

“Faiq, Ngapain Kamu ke sini?” Tanya Arin, setelah Faiq menutup kembali pintu ruang UKS.

“Cuma mau memastikan aja, apa Kamu beneran sakit atau pura pura sakit?”

Faiq menghampiri Arin, Ia letakkan telapak tangannya di kening Arin.

“Ngapain sih.”

Arin menyingkirkan tangan Faiq dari keningnya.

“Keluar Iq, sebelum yang lain datang kemari.”

“Siapa? Ajeng?”

“Bukankah sekarang waktunya pelajaran, kenapa Kamu kesini?”

“Ingin tahu keadaan Kamu.”

“Untuk apa?”

“Masih tanya juga?”

“Bukankah sekarang sudah ada Nella, ngapain mesti peduli dengan keadaan ku?”

Faiq tertawa mendengar pernyataan itu, Arin terheran dengan tingkah Faiq.

“Kenapa tertawa?”

“Aku tahu sekarang.”

“Tahu apa?”

“Kamu cemburu ya melihat Aku sama Nella?”

Arin hanya terdiam, Ia mulai menundukkan kepala sesaat menarik nafas lalu memandang wajah Faiq.

“Beberapa hari ini Aku sering menunggu mu di jembatan, tapi Kamu tak pernah datang.”

“Aku memang sengaja tak datang.”

“Kenapa?”

“Karena Aku ingin tahu kebenaran dan kejujuran keluar dari mulut Kamu.”

“Kebenaran apa?”

“Kalau Kamu suka sama Aku.”

“Sudah lah Iq, keluarlah jam istirahat sebentar lagi tiba.”

“Aku tidak akan keluar dari sini sebelum Kamu jujur sama Aku.”

“Aku bisa mengatakan semuanya tapi tidak di sini tidak saat ini.”

“Tapi Aku maunya di sini dan saat ini juga.”

“Faiq, Aku mohon.”

Faiq menggelengkan kepala, Ia dengan santainya duduk di kursi yang di sediakan untuk menunggu pasien.

“Bisa Kamu bayangkan apa kata mereka kalau memergoki kita berdua ada di dalam sini?”

Arin menarik nafas, keringatnya mulai membanjiri wajahnya rasa cemas dan ketakutan bercampur. Ingin Ia mengatakan yang sebenarnya tapi seakan ada yang mengunci mulutnya namun jika Ia memendamnya terus menerus hatinya akan semakin teriris.

Ting…ting…ting…

Bel tanda istirahat berbunyi, Arin terkejut Faiq tersenyum, mereka saling pandang. Tatapan Faiq seakan menanti sebuah jawaban, sementara Arin mencoba untuk mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan dari Faiq.

“Dengarlah suara  sepatu sepatu itu, bagaimana kalau pintu ini terbuka dan yang datang mereka.” Faiq mencoba menakut nakuti Arin.

“Baiklah.” Arin menghirup nafas dalam dalam, mencoba mengumpulkan kekuatannya lagi yang hampir lemah.

“Iya, Kamu benar Iq.” Arin memejamkan matanya, menundukkan kepalanya dan Faiq masih menunggu jawabannya.

“Aku suka sama Kamu.”

Faiq tersenyum, Ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu.

“Aku tunggu nanti sore di jembatan.” Kata Faiq sebelum keluar dari ruang UKS, mereka saling melempar senyum. Ada rasa legah dalam hati Arin setelah mengungkapkan semuanya.

Ternyata semudah itu tapi perjuangannya sungguh terlalu.

***

“Sebenarnya apa hubunganmu sama Nella?” Tanya Arin membuka suara setelah mereka bertemu di jembatan.

“Tidak ada apa apa.”

“Tapi kalian begitu dekat.”

“Aku sengaja dekati Nella untuk membuat mu cemburu.”

“Apa?”

“Tapi iya kan?”

“Dikit, tapi Nella kan suka sama Kamu.”

“Biarlah…”

“Faiq.”

“Ya.”

“Sampai kapan kita akan seperti ini?”

“Maksud kamu?”

“Menutupi hubungan Kita pada teman teman Kita.”

“Kamu ingin mereka tahu?”

“Aku belum siap kalau mereka tahu yang sebenarnya.”

“Ya.. Kita akan seperti ini terus mungkin sampai lulus sekolah atau diam diam nanti kita akan undang mereka di acara pernikahan Kita.”

“Haa..ha… Kamu ngayalnya terlalu tinggi Iq.”

Mereka pun tertawa bersama sampai senja mulai menampakkan wajahnya, saat hendak melangkah pulang pandangan mereka tertuju pada warung bakso di pinggir jalan yang menjadi langganan mereka.

“Mau makan bakso?” Tanya Faiq menawarkan, dengan senang hati Arin menerima tawaran itu.

“Boleh.”

Dan perjalanan mereka menuju warung bakso mengakhiri cerita ini. (Arinal Haqiqoh)

Pos terkait