Cuma Tiga Santri, Kajian Pertama Kitab Zadul Khuthoba’ Tetap Dimulai Dengan Serius dan Antusia

Cuma Tiga Santri, Kajian Pertama Kitab Zadul Khuthoba’ Tetap Dimulai Dengan Serius dan Antusia
Bukan pada, “berapa jumlah santri” yang ikut kajian, tapi “bagaimana kajian itu diikuti” dan sejauhmana capaian keilmuan yang mampu diserap oleh yang mengkaji. Tidak terkait jumlah dan tidak pula terpengaruh dengan ramainya orang yang hadir dalam kajian tersebut.

TUBAN. JAGATKITASAMA.COM – Terjadi perbicangan yang panjang sebelum kajian kitab Zadul Khuthoba’ dimulai, di ruang tamu dalem-nya pondok pesantren Darul Anwar Beji Jenu Tuban.

“Ayo dimulai saja, apa adanya dulu.”

Bacaan Lainnya

“Lha, harus dimulai ngajinya, kan sudah menjadi sebuah komitmen!”

“Saya tidak peduli, pokoknya tetap mulai, walaupun seandainya hanya saya saja yang hadir.”

“Tadi saya sangat lelah dan capek, tapi karena sudah menjadi komitmen maka ngaji hari ini tetap kita jalankan.”

“Ini kajian yang bersifat terbuka dan ringan, bisa disertai dengan selingan pertanyaan dan diskusi.”

“Kita akan melakukannya sebulan sekali di pekan kedua.”

“Jika kita tidak mengawalinya hari ini, maka selanjutnya akan terasa berat.”

“Semuanya harus diawali dan dari yang terkecil dulu.”

Hanya tiga santri senior (PC. IPNU Tuban) yang hadir, yang mengupayakan tenaga dan waktunya untuk menghadapi kenikmatana mengaji. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali bahwa mengaji kitab dengan kiai Wafa adalah sebuah kenikmatan dan keasyikan yang melekat dalam hati.

Bukan pada, “berapa jumlah santri” yang ikut kajian, tapi “bagaimana kajian itu diikuti” dan sejauhmana capaian keilmuan yang mampu diserap oleh yang mengkaji. Tidak terkait jumlah dan tidak pula terpengaruh dengan ramainya orang yang hadir dalam kajian tersebut.

Karena hal itulah maka ngaji pun dimulai dengan khidmat, mulai membahas beberapa poin penting yang tidak terduga, yang membuka pemahaman serius tentang ber-Tuhan dan menghadapi kenyataan dalam kehidupan.

Beberapa poin kajian penting tersebut adalah :

Pertama, Orang-orang ahli dzikir khafi yang kelak di hari kiamat bisa memberikan keberkahan kepada para nabi, para wali, para syuhada’ dan orang muslim lainnya. Keberkahannya seorang ahli dzikir menjadi rebutan bagi para penduduk akhirat maupun penduduk dunia.

Kedua, Beragama adalah kunci dari keberhasilan membangun peradaban manusia, tanpa adanya agama maka peradaban akan lebih cepat menghadapi kepunahannya dan alam tidak segan untuk menghancurkannya.

Ketiga, Mencari istri dengan empat ciri kebiasaan bukanlah sebuah anjuran, tetap yang agamanya paling baik adalah pilihan yang harus dipilih oleh seorang mukmin untuk dijadikan istri. Sedangkan kekayaan, kecantikan dan kebaikan keturunannya adalah penunjang dan bukan komponen utama membangun rumah tangga.

Keempat, Sosok Abu Nu’aim, sang penulis kitab Zadul Khuthoba’ adalah seorang kolektor, pencatat yang ulung, penjual karya tulis, penjelajah, dan petualang, sang explorer yang berkeliling wilayah-wilayah muslim untuk mencari sanad-sanad keilmuan.

Kelima, Beberapa tempat eksotis dalam keilmuan di abad pertengahan, seperti Basra, Kufah, Naisaphur dan Syam sudah menjadi bagian dari petualangan Abu Nu’aim untuk menjelajahi para pemikir yang hidup di kota-kota tersebut. Beliau banyak melakukan wawancara kepada para ulama dan menjadikan catatan perjalanannya sebagai sebuah kitab.

Keenam, Rasulullah adalah teladan terbaik dalam kepemilikan harta, beliau disebut kaya tapi tidak punya apa-apa, disebut miskin juga termasuk orang yang mampu memberikan kebutuhan hidup murid-muridnya, ahlus shuffa. Kekayaan dunia dan isinya sudah ada dalam genggaman rasulullah karena kuncinya sudah dipegang beliau, namun beliau lebih memilih hidup sederhana berkecukupan apa adanya—tidak mewah sama sekali.

Ketujuh,  mempelajari riwayat kehidupan para ahli ilmu adalah senjata yang ampuh untuk menguasai masa depan, karena dengan memahami perilaku kehidupan yang indah dari para ulama dan shahabat maka masa depan bisa dibentuk dan diaur ulang untuk dijadikan sebagai pijakan peradaban.

Mengaji yang hanya diikuti oleh tiga santri ini tetap hidup dan ramai, melibatkan banyak pendalaman diskusi atas materi yang dikaji dan perenungan yang terkonsentrasi dalam pikiran jernih.

Setiap materi yang perlu penajaman pasti diulang-ulang dan dikaji lagi bacaannya, lalu disertai dengan diskusi untuk mencari intisari pemikirannya.

Memang hanya tiga santri, tapi hal itu telah menjadi pijakan pertama untuk melangkah lagi yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Kajian bulanan Kitab Zadul Khuthoba’ berpotensi menjadi “Think Thank” yang akan mendorong pertumbuhan Muslim Santri di Tuban, untuk menyingkirkan Muslim palsu berkedok “kembali ke santri”. Kitab Zadul Khuthoba’ adalah sebuah awalan, yang akan membuka pintu kajian keilmuan yang lebih mendalam menuju pada karya-karya kreatif yang menunjang peradaban. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait