Degradasi Terkini Kualitas Santri, Lemah dalam Kajian Khazanah Keilmuan Islam Lalu Terjebak dalam Mitos “Barokah” dan “Menikah-Kaya” (Part-1)

Degradasi Terkini Kualitas Santri, Lemah dalam Kajian Khazanah Keilmuan Islam Lalu Terjebak dalam Mitos “Barokah” dan “Menikah-Kaya” (Part-1)
Perubahan zaman memang mengharuskan para santri tidak hanya berbekal keilmuan mengaji kitab salaf saja, bisa baca kitab, hafal al-Qur’an, atau hanya mengandalkan kemampuan nahwu-nya saja. Karena semua kebutuhan tersebut ternyata tidak dibutuhkan di dunia kerja pada era industry 4.0 ini.

JAGATKITASAMA.COM – Di surau Hasan Ma’shum Sidayu saya berbincang-bincang dengan seorang kiai yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman di sebuah pondok pesantren di Paciran. Beliau mengeluhkan atas fenomena penurunan kualitas santri zaman sekarang yang sama sekali mengalami kesulitan untuk membaca kitab salaf-pesantren, walaupun hanya dengan kitabnya sendiri—yang sudah diberi makna sendiri saat sang kiai mengaji bandongan.

Apa yang dialami oleh sang kiai juga dialami oleh ustadz-ustadz yang lainnya di pondok pesantren di Paciran yang berbeda, bahwa santri sekarang di pondok pesantren tidak sama dengan santri zaman dulu yang rajin membaca kitab dan bisa menghafalkan banyak puisi-puisi gramatika Arab (nahwu).

Bacaan Lainnya

“Durasi pengajaran ilmu-ilmu nahwu-shorof di madrasah pesantren sudah semakin tergerus, habis digunakan untuk pengajaran ilmu-ilmu umum.” Katanya pada saya.

“Ilmu-ilmu umum sangat mendominasi pengajaran di madrasah, sehingga para santri tidak mempunyai banyak waktu untuk mendalami kitab-kitab salaf ala pesantrennya.” Lanjutnya.

Beberapa saat saya diam, merenungi apa yang telah disampaikan oleh beliau. Dalam renungan saya, tiba-tiba pikiran nakal saya muncul. “Apakah memang negara tidak lagi membutuhkan seorang yang ahli baca kitab salaf?”

Dan memang, pengalaman di dunia kerja tidak membutuhkan seorang pengalaman calon pencari kerja untuk bisa membaca kitab salaf atau kitab pesantren di Indonesia. Dunia kerja membutuhkan skill-skill yang bisa menunjang kepentingan perusahaan dan kebutuhan saat ini yang sudah memasuki era baru industry 4.0 (era internet dan pasar digital).

Pertanyaan saya tidak mendapatkan respon positif dari kiai tersebut, saya dibiarkan dengan diamnya beliau lalu ditinggal ke majlis ngobrol yang lain.

Apakah ada yang salah dengan pertanyaan nakal saya itu? Entah salah entah benar, diskusi malam jumat itu ternyata membuat saya harus berfikir lebih panjang, karena berkaitan dengan harkat dan martabat saya sendiri sebagai seorang santri pesantren.

Kemunduran dan Ketertinggalan

Memang dewasa ini mau tidak mau harus diakui bahwa metodologi pengajaran dan pembelajaran di pondok pesantren sudah banyak yang mengalami degradasi terhadap keilmuan pesantren itu sendiri. Banyak santri yang tidak menguasai 100 persen apa yang dipelajarinya di pondok pesantren sekaligus semakin hilangnya minat santri terhadap “rajin baca kitab” itu sendiri.

Perubahan zaman memang mengharuskan para santri tidak hanya berbekal keilmuan mengaji kitab salaf saja, bisa baca kitab, hafal al-Qur’an, atau hanya mengandalkan kemampuan nahwu-nya saja. Karena semua kebutuhan tersebut ternyata tidak dibutuhkan di dunia kerja pada era industry 4.0 ini.

Semua pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar, semacam microsft, unilever, facebook, bank-bank nasional ataupun bank multinasional, dan sebagainya tidak membutuhkan kemampuan calon pekerjanya yang bisa membaca kitab atau bisa mengaji al-Qur’an.

Alhasil, kebutuhan sekolah atau belajar yang dilinierkan dengan kebutuhan dunia kerja tentu saja menuntut penyesuai kebutuhan dunia kerja, sambil “pelan-pelan” meninggalkan mata pelajaran yang tidak dibutuhkan di dunia kerja—lalu menyisahkan hanya beberapa jam pertemuan saja.

Karena tidak terlalu dibutuhkan dalam kehidupan untuk memenuhi kesejahteraan hidup dan menghadapi persaingan global di dunia kerja maka kitab-kitab salaf yang diajarkan di pesantren itu pun cenderung tidak lagi “berguna” dan tidak lagi mampu memberikan kemanfaatan bagi masa depan generasi muda.

Tidak mengherankan jika pelajaran-pelajaran kitab-kitab salaf yang lebih menekankan pada kemampuan “membaca kitab”, menguasai nahwu, menghafalkan nadzaman, mampu berilmu fiqih dan menghafalkan surat-surat cenderung mulai ditinggalkan di madrasah-madrasah yang tidak terlalu terikat dengan keberadaan pondok pesantren. Bersambung ….(Moh. Syihabuddin)

Pos terkait