Degradasi Terkini Kualitas Santri, Lemah dalam Kajian Khazanah Keilmuan Islam Lalu Terjebak dalam Mitos “Barokah” dan “Menikah-Kaya” (Part-2)

Degradasi Terkini Kualitas Santri, Lemah dalam Kajian Khazanah Keilmuan Islam Lalu Terjebak dalam Mitos “Barokah” dan “Menikah-Kaya” (Part-2)
penguasaan kemampuan pembelajaran di pesantren lebih baik difokuskan pada penguasaan metodelogi kajian, bukan menghabiskan pembelajaran pada produk pemikiran lama (fiqih) yang sudah usang. Misalnya, dalam kajian fiqih yang ditekankan adalah Ushul fiqih-nya, karena mengandung logika berfikir yang matang—bukan fiqih-nya yang berbasis produk hukum.

JAGATKITASAMA.COM – Selain disebabkan oleh Pperubahan kebutuhan zaman yang sudah tidak sama lagi seperti halnya zaman dulu (abad 14 M), degradasi kemampuan menguasai “kitab pesantren” itu juga disebabkan oleh mitos-mitos yang kurang membangun mental santri dan jiwa kerja keras santri untuk membentuk dirinya. Mitos itu adalah tentang “barokah” dan tentang “menikah-kaya”.

Pengalaman saya, selama di pesantren para santri senantiasa dijejali dengan mitos-mitos “barokah” yang tidak disertai dengan syarat dan rukun-nya barokah itu sendiri—kerja keras, rajin, tekun.

Bacaan Lainnya

Dengan bermodalkan kenyakinan bahwa dirinya pasti mendapatkan “keberkahan”, para santri lebih memilih jalan lain untuk belajar dengan cara bermalas-malasan, mendatangi kuburan, melakukan ragam ritual-ritual yang mirip sadomasokisme dan berkomunikasi dengan alam lain—bukan dunia nyata.

Akibatnya, bukannya keberkahan yang diperoleh oleh santri dalam belajar di pesantren tapi justru sikap menyakini takhayul, mistisime, melemahkan mental orang di bawahnya, dan cenderung menciptakan penglihatan-penglihatan melalui mimpi atau alam bawah-sadar.      

Disamping itu, di pesantren para santri juga cenderung dipameri dengan “Pernikahan Bahagia” dengan “bidadari santri”. Beragam adagium menjadi pedoman di pesantren untuk menguatkan hal itu yang terus dipegang teguh para santri—hingga dewasa.

Menikah menyebabkan menjadi kaya, menikah banyak anak adalah berkah, menikah adalah jalan menuju surga, menikah adalah pendewasaan manusia, dan menikah adalah penyempurna separuh agama, adalah deretan adagium yang terus menerus didengungkan di telinga para santri, sehingga santri selalu terjebak dalam mitos memiliki bidadari cantik—lalu kaya tiba-tiba saat membangun rumah tangga.

Tidak berhenti disitu, setiap alumni santri yang datang ke pesantren tempatnya belajar selalu akan mendapatkan pertanyaan, “kapan menikah?”, atau “putranya sudah berapa?” baik dari seniornya yang sudah menikah ataupun dari kiainya sendiri.

Bagi yang belum menikah, pasti akan jadi bahan bully-an dan akan terus ditertawakan sampai merasa malu dan terpojok.

Dua hal mitos tersebut tentunya tidak memiliki hubungan sama sekali dengan membaca kitab, atau menghafalkan al-Qur’an, atau juga belajar nahwu-fiqih. Padahal tujuan belajar di pesantren adalah untuk bisa menguasai kitab salaf, bukan untuk mencari jodoh atau bermalas-malasan mengandalkan “barokah”.

Revitalisasi Semangat Santri

Kaitan dengan hal inilah maka perlu adanya tindakan revitalisasi terhadap semangat pembelajaran di pesantren. Para santri harus mendapatkan sesuatu yang berbeda yang bisa membentuk mental santri agar tegap dan siap menghadapi perubahan zaman.

Pertama, menjadikan semua materi pengajaran di pesantren adalah sebuah spirit awal yang kelak bisa diteruskan oleh para santri untuk menjadi ilmu-ilmu lainnya yang lebih produktif. Termasuk beradaptasi dengan kemajuan tehnologi dan kemajuan media informasi. Misalnya, mengaji kitab kuning tidak terfokus pada fiqih ubudiyah saja, tapi materinya meningkat pada matematika, fisika, algoritma dan tentunya pengetahuan berbasis STEM.

Kedua, penguasaan kemampuan pembelajaran di pesantren lebih baik difokuskan pada penguasaan metodelogi kajian, bukan menghabiskan pembelajaran pada produk pemikiran lama (fiqih) yang sudah usang. Misalnya, dalam kajian fiqih yang ditekankan adalah Ushul fiqih-nya, karena mengandung logika berfikir yang matang—bukan fiqih-nya yang berbasis produk hukum.

Keempat, sebaiknya di lingkungan pesantren mulai mengikis habis mitos-mitos “barokah” yang tujuannya hanya untuk menundukkan atau mematikan jiwa kritis para santri. Konsep barokah harus diubah dan di re-definisi, dari bentuk malas-malasan dan impian kosong menjadi proses kerja keras tiada henti, proses Panjang untuk menggapai keberhasilan dunia-akhirat, dan proses menumpuk kebaikan sepanjang hayat untuk membangun peradaban manusia yang lebih berguna.

Dan kelima, hendaknya pesantren melakukan banyak persiapan dan perubahan pembelajaran terkait dengan fenomena yang dihadapi sekarang. Pesantren harus jelih membaca kebutuhan zaman, melihat ragam peristiwa, dan sekaligus memberikan respon-respon dalam bentuk solusi yang lebih teknis dan terukur untuk bisa diaplikasikan di masyarakat—tidak sekedar menyebarkan konsep “barokah” dan masa depan yang jauh (akhirat).

Misalnya, pesantren harus sudah punya tahapan-tahapan yang konkret dalam bentuk “peta jalan” yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk menyambut bonus demografi 2045 sekaligus memberikan pemikiran yang konstruktif untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Jika kelima hal ini bisa dilakukan oleh pesantren, maka tidak menutup kemungkinan kegelisahan yang dialami oleh seorang kiai dari Paciran tidak akan terjadi lagi, karena memang yang dipelajari di pesantren sangat dibutuhkan di dunia kerja (yang dekat), tidak sekedar masa depan yang jauh (akhirat) yang tidak terjangkau. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait