Euro 2024; Turkiye Memenangkan Duel “Kuda Hitam” dengan Austria 1-2, Menghancurkan Prediksi Klasik Bandar Judi Eropa

Euro 2024; Turkiye Memenangkan Duel “Kuda Hitam” dengan Austria 1-2, Menghancurkan Prediksi Klasik Bandar Judi Eropa
Mampu mencetak gol kedua untuk kemenangan Turkiye atas Austria pada fase gugur enam belas besar tersebut tentu saja membuat Merih Damirel (3) seperti orang kesetanan, selebresinya tidak terbendung untuk diluapkan, teriakkannya keras, dan membuat seluruh official Turkiye kegirangan. Kemenangan ini memastikan Turkiye untuk menghadapi “saudara satu group” Austria, Belanda di perdelapan final.

JAGATKITASAMA.COM – Jauh sebelum ajang sepakbola Euro menjadi industri yang menguntungkan banyak negara, tepatnya pada 1683 barisan pasukan kekaisaran Utsmani mengepung benteng kecil Austria yang dikuasai oleh wangsa terakhir kekaisaran Habsburg.

Dengan bantuan artileri berat, pasukan berkuda akinji dan pasukan khusus Janissary, serta deretan orang-orang Basibezuk dari wilayah eropa yang ditaklukkan, wazir Kara Musthafa Pasa diperintah oleh Sultan Sulayman al-Qonuni untuk membersihkan sisa-sisa kekuatan Wangsa Habsburg di seluruh daratan Eropa.

Bacaan Lainnya

Maklum saja, di zaman itu kekaisaran Utsmani adalah negara adidaya yang menjadi identitas Erasia sekaligus mengawal berjalannya peradaban dunia. Eropa masih tertinggal dan terbelakang.

Karena keberadaan benteng Wina yang tidak memiliki jalan yang layak, penuh lumpur dan semak-semak berhutan, maka artileri Utsmani sangat tidak berarti untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Dan lagian, orang-orang di dalam benteng Wina juga sangat gigih mempertahankan kotanya.

Merasa tidak ada banyak keuntungan dengan merebut benteng kecil Wina (ibukota Austria sekarang), bukan pula kota dengan posisi yang strategis untuk mengembangkan perdagangan dan keilmuan, maka pasukan Utsmani memutuskan mundur ke wilayah Balkan dan fokus membangun kota-kota di wilayah bekas kekuasaan Astro-Hungaria yang sudah ditaklukkan.

Lagian, dengan meninggalkan Wina maka superioritas Utsmani tetap menjadi ancaman bagi kerajaan-kerajaan di eropa waktu itu yang lemah, tidak mempunyai kekayaan, dan mengalami kesulitan dalam membangun perdagangan. Wangsa Utsmani sudah “kenyang” dengan banyak wilayah lain yang lebih Makmur, lebih subur, dan lebih banyak menyediakan anak-anak muda untuk direkrut menjadi Janissary melalui program Devshirme.

Kenangan akan pengepungan Wina yang ditinggalkan oleh Utsmani pada abad pertengahan itulah yang membuka sedikit keindahan permainan sepakbola yang berlangsung di Jerman, antara Austria vs Turkiye. Bukannya Turkiye yang pulang meninggalkan Jerman, justru sebaliknya Austria harus pulang dari tanah sesama bangsa Jermanik itu karena gagal mengalahkan Turkiye yang tidak diunggulkan.

Kemenangan Turkiye atas Austria membantah prediksi para bandar judi, pengamat sepakbola dan para wartawan yang dikenal ahli dalam meramal pertandingan dengan menggunakan statistic pertandingan lama. Turkiyo diprediksi gagal melanjutkan fase gugur, dan Austria negeri kelahiran paman Adolf Hitler yang lolos. Dan itu tidak terjadi dalam pertandingan yang digelar pada pukul 02.00 wib.    

Pada menit pertama pertandingan berjalan, belum penuh satu menit, Turkiye menerapkan strategi “Ciptakan gol terlebih dahulu” melalui serangan cepat dan gempuran secara gerombolan menuju ke wilayah Austria. Hasilnya, Turkiye mendapatkan tendangan pojok disisi kiri gawang Austria.

Arda Guler, pemain muda Turkiye yang sangat cerdas dan antusias memanfaatkan tendangan pojok untuk langsung berada di mulut gawang Austria. Benar saja, bola membentur pemain belakang Austria dan menyulitkan kipernya pula. “Gol” sebenarnya, tapi belum dapat dipastikan.

Kendati demikian, keberuntungan tetap berpihak pada timnas Turkiye. Bola yang sudah masuk melewati garis gawang Austria ditampil keluar dengan cepat oleh kiper P. Pentz. Tepat di depannya ada Merih Demirel, pemain bek tengah yang memanfaatkan bola-bola atas tendangan pojok. Hasilnya, Merih Demirel menendang dengan keras bola yang membingungkan itu dan melesatkannya ke dalam mulut gawang Austria.

Di babak kedua, pada menit ke 59, lagi-lagi Demirel memanfaatkan tendangan pojok yang dieksekusi oleh Ardi Guler dari sisi kiri gawang Austria. Sundulan khas seorang bek dilakukan dengan sempurna oleh Merih Demirel yang menjadikan keunggulan Turkiye semakin kokoh 0-2. Beruntung Austria bisa memperkecil kekalahannya melalui tendangan Gregoritsch, pemain pengganti yang bisa mengubah skor menjadi 1-2, pada menit ke 66.

Pada pertandingan selanjutnya di babak kedua, kedua tim bermain saling menyerang. Perlawanan keras diberikan kedua tim untuk menciptakan hasil akhir yang menguntungkan. Kedua kuda hitam layaknya gladiator yang membutuhkan kekalahan musuhnya agar memperoleh sambutan meriah dari pendukungnya. Dan diakhir pertandingan, Turkiye tetap bisa mempertahankan kemenangannya 1-2 yang spektakuler dihadapan insan sepakbola dunia.

Pertandingan yang digelar di stadium Red Bull Arena, di kota Leipzig Jerman Timur ini merupakan pertandingan dua kesebelasan kuda hitam yang “tidak masuk unggulan juara” di ajang Euro 2024 ini. Keduanya dipastikan hanya kandas di babak penyisihan group dan akan pulang lebih awal. Tapi ternyata posisi kuda hitam itulah yang justru menguntungkan kedua tim untuk memberikan tekanan keras kepada tim-tim unggulan lainnya.

Turkiye bisa berjaya di group F bersama Portugal dan Georgia, sedangkan Austria mampu bersaing digroup neraka dengan poin tertinggi mengalahkan Perancis dan Belanda. Austria tidak masuk unggulan untuk lolos babak fase gugur, namun justru kondisi itulah yang membuat mereka merasa ringan untuk mengimbangi keperkasaan Perancis dan Belanda.

Dengan kemenangan ini praktis Turkiye melaju ke Perdelapan final untuk menghadapi Belanda yang sudah mengalahkan tetangga terdekat Turkiye. Rumania tanpa ampun dibantai oleh tim Orange 3-0, yang semakin mengokohkan posisi Belanda sebagai tim favorit juara.

Belanda adalah tim yang berada di satu group neraka bersama Austria. Bisa jadi, dengan mengalahkan Austria di enam belas besar maka Turkiye akan lebih banyak menciptakan peluang untuk mengalahkan Belanda di perempat final. Asalkan Vincenzo Montela, pelatih Turkiye benar-benar menerapkan strategi yang sama saat mengalahkan Austria. Belanda saat ini bukanlah Belanda yang menakutkan, mereka sangat lemah dan keropos.

Di fase delapan besar semoga Turkiye bisa menjungkal Belanda untuk pulang dari negeri para filsuf dan negeri yang pernah menjadi suburnya kelahiran Waffen SS. (Moh. Syihabuddin)  

Pos terkait