Gegabah dan Arogansi Kaderisasi, Setiap Generasi Harus Melewati Proses Kematangannya

Gegabah dan Arogansi Kaderisasi, Setiap Generasi Harus Melewati Proses Kematangannya
Tentu saja dengan merekrut para alumni IPNU dan IPPNU yang sudah matang secara mental, intelektual dan spiritual akan memudahkan Ansor dan Fatayat NU untuk mengembangkan organisasinya lebih progresif dan visioner, karena para “alumni” tersebut sudah dimatangkan modal mental-intelektual-spiritual-nya dijenjang kaderisasi IPNU dan IPPNU.

JAGATKITASAMA.COM – Empat anak-anak IPNU dan IPPNU Palang “dolan” ke kantor saya di TNP Falanjistan. Misi mereka adalah mempresentasikan kegiatan terdekat mereka untuk melanjutkan program kerjanya. Diantara mereka yang datang hanya ada dua orang yang dianggap pemain senior, karena yang lainnya sedang mengikuti kaderisasi di badan otonom yang lebih besar.

Saya kaget dan cukup tercengang kabar tersebut, karena belum seharusnya seorang IPNU dan IPPNU yang “masih aktif” mengikuti “jenjang kaderisasi” di Ansor dan Fatayat. Sebab mereka harus berkonsentrasi terlebih dahulu untuk mematangkan dirinya di IPNU dan IPPNU, agar saat dipetik untuk aktif di Ansor dan Fatayat sudah penuh “pengetahuan-mental-militansi” dan siap melakukan eksekusi secara nyata.

Bacaan Lainnya

Namun dengan gegabah mengajak kader-kader muda IPNU dan IPPNU untuk menjadi bagian dari kader-kader muda Ansor atau Fatayat maka hal itu terkesan arogan dan kurang bijaksana. Kenapa demikian?

Pertama, proses tersebut akan menjadikan kader IPNU dan IPPNU yang mendapatkan “materi kaderisasi Ansor dan Fatayat” cenderung “sudah merasa lebih dewasa” secara premature di kalangan rekan-rekannya di IPNU dan IPPNU.

Kedua, tentu saja tindakan “percepatan kaderisasi itu” menggerus keaktifan anggota IPNU dan IPPNU untuk lebih maksimal dan kreatif di kepengurusan IPNU dan IPPNU, karena “tanpa kreatif” pun mereka sudah direkrut ke dalam Ansor dan atau Fatayat.

Ketiga, menghabisi stok calon kader untuk bisa direkrut dan diproses dijenjang kaderisasi IPNU dan IPPNU (Makesta, Lakmud dan Lakut), karena sudah terdesak terlebih dahulu oleh materi-materi yang diperolehnya dari Ansor dan Fatayat.

Keempat, tentu saja anak-anak yang direkrut secara premature tersebut akan cenderung merasa lebih pandai, “sudah mendapatkan”, atau “sudah tahu” saat mereka diberi materi-materi di jenjang kaderisasi serta pengalamannya IPNU dan IPPNU, karena mereka sudah mendapatkannya di badan otonom yang lebih tinggi.

Dampak buruknya adalah IPNU dan IPPNU akan menjadi korban “kekurangan kader” dan “kehabisan stok kader muda aktif” karena semuanya sudah diambil dan dijadikan sebagai “barisan pasukan” di badan otonom yang lebih tinggi dibandingkan dengan IPNU dan IPPNU.

Selain itu, IPNU dan IPPNU akan terlihat “tidak berguna” untuk dijadikan sebagai ajang pengembangan diri, tidak mempunyai “posisi yang kuat” dihadapan “orang tuanya”, dan pastinya kurang memiliki nilai tawar untuk bernegosiasi dengan steakholder atau jejaring yang lebih luas—pihak swasta maupun pemerintah.

Untuk itulah, proses percepatan kader secara premature ini harus dihentikan dan membiarkan para pelajar muda, usia 19-25 tahun untuk “terlebih dahulu” aktif di IPNU dan atau di IPPNU agar mereka memiliki kesempatan untuk menanamkan mental jenius-kreatif di IPNU dan IPPNU.

Selain itu, selama mereka aktif di IPNU dan IPPNU tentu saja akan memberikan proses “penggodakan” yang lebih lama, lebih matang, dan pastinya lebih memperkuat dirinya untuk semakin menjadi nahdliyin sejati yang jenius-kreatif dengan kapasitas dan potensinya masing-masing.

Baru setelah mereka menjadi matang di IPNU dan IPPNU, sudah menamatkan jenjang kaderisasinya di tingkatan kecamatan dan kabupaten (Makesta, Lakmud, dan Lakut) secara tuntas maka sudah saatnyalah mereka dijadikan sebagai kader utama di badan otonom diatasnya, bisa di Ansor maupun di Fatayat NU.

Tentu saja dengan merekrut para alumni IPNU dan IPPNU yang sudah matang secara mental, intelektual dan spiritual akan memudahkan Ansor dan Fatayat NU untuk mengembangkan organisasinya lebih progresif dan visioner, karena para “alumni” tersebut sudah dimatangkan modal mental-intelektual-spiritual-nya dijenjang kaderisasi IPNU dan IPPNU.

Ketika para alumni IPNU dan IPPNU ini sudah direkrut masuk ke Ansor dan Fatayat NU, maka bangunan yang dipersiapkan untuk mereka adalah pondasi material, finansial dan ketahanan ekonomi melalui proses kaderisasi-aktif. Karena secara wawasan ke-Aswaja-an mereka sudah tuntas, gilirannya memberikan pondasi keilmuan finansial yang kuat pada mereka agar menjadi generasi muda yang sejahtera dan memiliki banyak uang untuk membangun keluarganya (anak-istri-suami) dan tentunya berjam’iyah secara nahdliyah.

Alhasil, ketika proses di IPNU dan IPPNU sudah berjalan dengan baik, efektif dan terukur maka melanjutkan jenjang pengabdian ke Ansor dan Fatayat NU adalah perkara yang mudah untuk dilakukan, karena mereka sudah selesai “mondok di IPNU dan IPPNU” tinggal melanjutkan “bekerja dan mencari sumber finansial” di Ansor dan Fatayat NU. Targetnya, di masa depan kader-kader tersebut akan menjadi orang yang sejahtera dan pantas dianggap makmur secara finansial, sehingga tidak memberatkan mereka untuk berkontribusi secara tenaga, waktu dan material kepada NU. NU akan lebih mandiri ditopang oleh kader-kadernya yang sudah matang dan siap untuk merespon perubahan zaman. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait