Guru Ngaji itu “Ngemong lan Ngopeni”, tidak Sekedar Duduk Manis dan Menekankan Ngajinya Santri

Guru Ngaji itu “Ngemong lan Ngopeni”, tidak Sekedar Duduk Manis dan Menekankan Ngajinya Santri
Para santri TPQ Dziya'ul Ulum, pada hari juma't, 10 Mei 2024 berada di tengah-tengah persawahan kampung yang sangat rindang. Wajah anak-anak sangat ceria dan terlihat bahagia menikmati suasana jalan pagi.

kitasama.or.id – Khirana berteriak meneriaki temannya yang terpeleset tanah sawah, Cantik tertawa riang karena bisa bertualang liburan dengan teman-temannya tepat pada ulang tahunya yang ke sepuluh tahun, Bintang ditertawai setiap kali berbicara karena bola matanya dianggap lucu, Abbas kesulitan mengendalikan tubuhnya saat melewati galangan sawah dan Riska meluapkan guyonan seperti sedang berada jauh di tempat pariwisata di luar kota.

Tidak mau kalah dengan semua itu, Nico terus-terusan tertawa saat melihat kekonyolan Ibra yang hanya berberat 25 kg, Ibra bercerita tentang Real Madrid yang sudah juara La Liga, Velove senyum-senyum merasakan dunia yang baru, Rezza merasakan hadirnya sebuah petualangan yang penuh semangat, dan yang lainnya berkata “ini liburan yang seru”.

Bacaan Lainnya

 Misi pertama anak-anak santri TPQ itu sarapan sambil menyaksikan terbitnya matahari di “Jembatan Kenangan”, lalu menuju ke tengah sawah dekat “Telaga Kodok”, dan terakhir mereka akan menyusuri jalan baru yang terbentuk dari tumpukan batu kapur gunung—yang membelah dusun paling padat di desa Ketambul.

Dalam dua hari libur cuti bersama dalam peringatan “kenaikan Isa almasih”, 9-10 Mei 2024 para santri al-Qur’an merencanakan sebuah kegiatan pengisian hari libur dengan bermain bola dan jalan-jalan menyelusuri sawah—terutama pada hari jum’at-nya. Hari itu merupakan hari yang sangat menggairahkan bagi para santri, menemukan ritme untuk “semangat” mengaji, menambah munculnya keinginan untuk terus berkumpul dengan teman-temannya dalam rangka mengaji atau bermain di tempat bermain di sebelah TPQ.

***

Itulah kegiatan saya pada Jum’at, 10 Mei 2024 mengajak jalan-jalan para santri TPQ yang mendapatkan Pendidikan “keras dan disiplin” membaca al-Qur’an tiap siang hari di TPQ. Saya harus melakukan sesuatu yang membuat anak-anak bisa “suka mengaji” walaupun dididik dengan disiplin “kebenaran tajwid” saat membaca al-Qur’an, dan itu hanya bisa dilakukan dengan cara “bermain dengan mereka” dan mengajak mereka menikmati hal-hal kecil yang menyenangkan.

Guru ngaji “tidak sekedar” memaksakan anak-anak untuk terus menerus membaca al-Qur’an, mendidik mereka dengan keras dan kedisiplinan membaca, mendorong mereka untuk terus menerus mengulang-ulang bacaan mengajinya, dan tidak segan-segan “memerahi dengan suara keras” anak-anak agar bacaannya benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dan makharijul huruf.

Setiap saya mengajar mengaji membaca al-Qur’an, saya mengikuti kiai saya dulu—mendorong santri untuk membaca bagian bacaannya secara berulang-ulang, mengulanginya sampai berkali-kali, tidak bosan membaca terus-terusan, dan yang jelas “sampai tahu” arah bacaan “kemana selanjutnya kalimat ini!”.

Kedisplinan dalam membaca al-Qur’an selalu saya tekankan pada para santri TPQ, bahkan kepada anak saya sendiri—yang sampai mengalami “penyiksaan oleh ayahnya” karena merasa saya tekan saat salah membaca bacaan al-Qur’annya. Kepada para santri, saya tidak tanggung-tanggung mengeraskan suara saya, agar mereka mengeraskan bacaannya, mengulangi bacaannya yang salah dan semua itu pastinya membuat para santri takut. “Pak Budin keras sekali dan menakutkan”.

Melihat saya menerapkan disiplin dalam mengaji para santri mulai mengetahui bahwa membaca al-Qur’an tidak sekedar membaca, tapia da ilmunya dan ada caranya yang sesuai menurut kaidah keilmuan yang berlaku, terutama panjang-pendeknya bacaan, penerapan lughat bacaan tiap huruf, dan nada yang sesuai dengan makna huruf hijaiyah.

“Pak Budin tidak hadir! Hore…kita aman.” Teriak salah satu santri yang takut ketika saya mengajar, karena dia merasa bahwa setiap bacaannya tidak bisa 100% benar jika dihadapan saya.

Pastinya, para santri menjadi takut saat saya yang mengajar mengajinya dan merasa ada tekanan dalam dirinya. Akan tetapi semuanya itu bisa hilang dan berubah menjadi keceriaan ketika saya memasuki dunia mereka, dunia yang penuh dengan keceriaan dan dunia yang hanya “bermain” dalam imajinasinya.

Beberapa santri putra TPQ saya minta bermain bola di tanah lapang sebelah timur TPQ, terkadang saya ikut untuk mengeluarkan keringat dan hal itu sungguh sebuah keceriaan yang baik di wajah para santri. Saat mereka bermain bola, saling lempar dan saling berteriak menjadi bagian yang mengasyikkan bagi kehidupan mereka.

Lalu para santri TPQ Putri, saya beri permainan, mengajak jalan-jalan mengelilingi area persawahan milik warga desa, sambil menikmati “kerja keras” para petani di sawah yang berbuah manis. Hal itu membuat para santri merasa dekat dan merasa tidak ada “hal yang menakutkan” dalam diri saya.

Itulah konsep guru ngaji di TPQ, dia harus “ngemong dan ngopeni” para santri untuk bisa menjadi anak-anak yang siap menerima pelajaran yang baik di TPQ, menerima Pendidikan al-Qur’an yang keras agar bisa benar dan menjadi anak yang bahagia saat berangkat mengaji.

Ngemong artinya memberikan suasana ceria kepada mereka (para santri) agar selalu hadir untuk mengaji dan semarasa siap menghadap gurunya untuk membaca al-Qur’an—siap pula dibenarkan saat bacaannya salah. Dan Ngopeni artinya bersedia untuk meluangkan waktunya, mengajak mereka menikmati hari-hari lain selain hari aktif belajar di TPQ, yang diwujudkan dengan rekreasi, jalan-jalan Bersama, dan olahraga ringan.

Alhasil dengan dua konsep ini guru ngaji berperan ganda sebagai “pengajar” ilmu tentang membaca al-Qur’an dan yang sejenisnya sekaligus sebagai “orang tua kedua” yang bisa mengisi hari-hari luang mereka untuk meningkatkan semangat belajarnya dan menghindari rasa bosan belajar.

***

Di zaman sekarang, hampir dipastikan tidak ada santri yang tidak terpapar gadget atau handphone, semuanya sudah teracuni hidupnya dangan bermain HP untuk nonton youtube, tiktok dan media virtual lainnya. HP adalah alat yang paling mudah untuk membunuh mental anak, mematikan kreatifitas mereka dan membuat mereka “diam” mengabaikan ide-ide cerdasnya. Dan sebelum terlambat, keracunan ini harus dicegah dan jangan sampai membuat mereka kecanduan layaknya kecanduan narkoba. Solusinya yang paling mudah untuk mencegah mereka terus-terusan bermain HP adalah mengajak mereka keluar kea lam lain selain rumahnya—dengan disertai tanpa memegang HP. Cara ini sangat baik untuk memoles ulang kecerdasan anak agar bisa terurai lebih “pelan-pelan” untuk memulai lagi belajar al-Qur’an menjadi lebih baik.

Pos terkait