Ijtihad Konstruktif, Mengubah “Kondisi Suro” dengan Ibadah dan Amalia “Muharram-an”

Ijtihad Konstruktif, Mengubah “Kondisi Suro” dengan Ibadah dan Amalia “Muharram-an”
Bulan muharram adalah bulan yang mulia untuk beribadah, yang bisa mengantarkan setiap orang untuk menjadi mulia disisi Allah dan juga disisi manusia. Bulan muharram adalah bulan yang tepat untuk memulai segala hal-hal yang baik, agar kelak hasilnya bisa kembali untuk “memuliakan Allah”. dan bulan muharram adalah bulan yang memberikan banyak energi positif untuk bisa memperbaiki kondisi bumi yang rusak karena kerakusan, ketamakan dan kejahatan.

JAGATKITASAMA.COM – Banyak bencana yang terjadi di bulan suro (tahun baru dalam kalender jawa), yang mengakibatkan kerusakan, rasa sakit, kekecewaan, dan bahkan kematian. Tidak jarang yang menyebutkan bulan suro sebagai bulan “bencana” dan datangnya marabahaya.

Beberapa teman saya menceritakan pada saya, jika kakaknya yang jatug dari atap saat bekerja di Malaysia terjadi pada bulan Suro, saudara temannya yang kecelakaan terlindas truck juga terjadi pada bulan Suro, dan seorang pedagang kaki lima yang tiap hari berjualan pulang pergi ke pasar menabrak kucing juga terjadi pada bulan Suro.

Bacaan Lainnya

Ada lagi yang lebih ekstrem, kabar dari seorang yang dianggap memiliki penglihatan tajam melalui mimpi-mimpinya. Dia telah bermimpi di bulan Suro ini, tahun 2024, jika kelak dalam waktu dekat ini pasti akan terjadi kerusuhan, huru-hara, kekerasan, dan bisa juga perang yang merugikan proses pembangunan negara. Entah penglihatan itu benar atau salah, tapi banyak orang yang mendengar cerita tersebut menyakininya.

Beberapa orang yang menyakini adanya kekuatan ghaib yang tersembunyi di bulan Suro ini juga melakukan beragam ritual, mulai dari bertapa di sebuah tempat yang dianggap “suci”, bersemedi untuk berkomunikasi dengan dimensi lain, dan melakukan pencucia senjata agar lebih tajam untuk mengalahkan musuh-musuhnya.

Bagi saya, Informasi tersebut membuat saya bimbang antara percaya dan tidak, karena bagi saya setiap ruang dan waktu selalu ditentukan oleh kekuatan pikiran dan sugesti yang telah dibentuk di dalam dirinya sendiri. Artinya, apa yang dinyakini oleh seseorang, apa yang disukai oleh seseorang akan membentuk dan menarik lingkungannya untuk mendekat dan semakin melekat pada orang yang menyakininya.

Jika kita menyakini bulan Suro adalah sebuah bencana, atau memaknai bulan ini sebagai bulan Suro, yang berakar dari kata Soro yang bermakna sengsara, melarat, dan sangat berat dijalaninya, maka hasilnya pun kita akan mendapatkan kemelaratan dan kesengsaraan.

Tapi sebaliknya, jika kita menyebut bulan ini dengan sebutan yang lain, sebutan yang lebih konstruktif, membangun dan penuh kemulian maka bulan ini pun akan cenderung mendekati kita dengan kemuliaan, dengan aktivitas yang penuh bahagia, dan dengan ritual ibadah yang mengharapkan ampunan pada Allah Dzat Yang Maha Kuasa.     

Oleh karena itulah, terlepas dari beragam kenyakinan dari budaya yang terbentuk oleh masyarakat di zaman dulu, maka menurut hemat saya, dari pada menyebut bulan pada tahun baru dengan sebutan suro (Bahasa Jawa) alangkah baiknya kita persepsikan dan kita alihkan bulan tersebut menjadi bulan muharram (Bahasa Arab).

Karena jika kita menggunakan kata “suro” maka yang muncul adalah arti dari suro itu sendiri yang bermakna sengsara, melarat dan berat untuk dilakukan. Namun jika kita menggunakan kata “muharram” maka yang muncul adalah arti dari muharram itu sendiri yang berarti dimuliakanm, dijunjung tinggi dan diberkati.

Bulan muharram adalah bulan yang mulia untuk beribadah, yang bisa mengantarkan setiap orang untuk menjadi mulia disisi Allah dan juga disisi manusia. Bulan muharram adalah bulan yang tepat untuk memulai segala hal-hal yang baik, agar kelak hasilnya bisa kembali untuk “memuliakan Allah”. dan bulan muharram adalah bulan yang memberikan banyak energi positif untuk bisa memperbaiki kondisi bumi yang rusak karena kerakusan, ketamakan dan kejahatan.

Oleh karena itulah manajemen TPQ Dziya’ul Ulum Setro Ketambul Palang Tuban melakukan ijtihad konstruktif terkait dengan kedatangan bulan Muharram 1446 H ini dengan mengadakan beberapa rangkaian kegiatan konstruktif-kreatif. Diantaranya adalah :

Acara puncak, yang diadakan pada hari selasa, 09 Juli 2024 bertepatan pada tanggal 2 Muharram 1446 H. kegiatan puncak ini merupakan kegiatan pembuka sekaligus kegiatan yang paling meriah, karena diikuti oleh semua elemen guru, pengasuh, pengelola, santri TPQ dan santri MQ, serta seluruh wali santri.

Kegiatan puncak acara (1) ini dilaksanakan pada pukul 18.00 yang dimulai dengan pembacaan juz ‘amma oleh para santri MQ dan TPQ, lalu dilanjutkan dengan dziba’iyah yang diramaikan oleh Ustadz Imam Wahyono dan jam’iayh rebana al-Banjari Masjid Dalem Nurul Iman, dan terakhir akan dimeriahkan dengan kajian keislaman yang akan diasuh oleh Ustadz Mulyakin, M.Pd., ketua Rijalul Ansor Kecamatan Palang.  

Acara lanjutan, ada tiga kegiatan, yakni khusus santri MQ, khusus guru ngaji dan khusus santri tahfidz di Kawasan Pantura Palang-Paciran.

Kegiatan lanjutan khusus santri MQ (2) adalah kelas menulis untuk pemula yang akan membekali para santri untuk membuat esai atau cerpen. Kelas ini merupakan gebrakan baru di lingkungan TPQ se-kecamatan Palang-Tuban sekaligus untuk mengawali membangun desa Ketambul sebagai “Desa Literasi”, dan akan digelar pada Sabtu, 13 Juli 2024 di TPQ dziya’ul Ulum.

Tujuan jangka panjang kegiatan ini adalah mencetak para santri-santri yang bisa berfikir secara bijaksana dan menuangkan ide-idenya dalam bentuk karya sastra, yang mana di masa depan kelak akan melahirkan banyak karya sastra berupa buku dari produk kreatif pemikiran anak-anak di desa di wilayah Palang.

Kegiatan ini membutuhkan komitmen dan kesabaran, karena tidak bisa dibangun dalam waktu satu atau tiga tahun. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menciptakan ekosistem kreatif di sebuah desa yang terpencil dari kota dan berada di perbatasan terdepan sebuah kabupaten.

Kegiatan lanjutan khusus santri tahfidz pantura Palang-Paciran (3) hanya dilaksanakan oleh tiga-empat santri yang hafal al-Qur’an. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Jum’at, 12 Juli 2024 di TPQ Dziya’ul Ulum, untuk memulai rutinan tadarus qur’an bil hifdzi sekaligus membangun kebiasaan “masyarakat desa” untuk melihat aktivitas “membumikan al-Qur’an dari desa”.  

Dan terakhir, kegiatan lanjutan khusus guru ngaji di lingkungan manajemen TPQ Dziya’ul Ulum yang akan dilaksanakan pada akhir bulan juli 2024. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang akan mengajak para guru untuk berijtihad secara matang guna menghasilkan buah pemikiran yang kreatif dan konstruktif. Hasilnya adalah adanya blue print untuk perayaan 10 tahun Dziya’ul Ulum.

Karena sebuah ijtihad, semoga rangkaian kegiatan Muharram Party 1446 ini merupakan kegiatan yang positif dan bisa dijadikan pijakan untuk memulai peradaban yang lebih membangun dan bermanfaat. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait