Jerih Payah Seorang Ibu Pada Anaknya Pasti Berbuah Pada Keberhasilan dan Kesuksesan

Jerih Payah Seorang Ibu Pada Anaknya Pasti Berbuah Pada Keberhasilan dan Kesuksesan
Seperti mendapatkan sebuah emas satu kotak di sebuah tempat yang tidak disangka-sangka, kasih sayang ibu dan seorang ayah kepada anaknya adalah aset yang sangat berharga dan bisa menjadi penyebab keberhasilan anak-anak di masa depan.

SURABAYA. KITASAMA.OR.ID – Saya punya cerita yang sangat berkesan dalam hidup saya, semoga ini menjadi pelajaran bagi semua pembaca dan bisa saling mendukung untuk melakukan kebaikan. Terutama untuk mengingat kasih sayang ibu kepada putra putrinya.

Pada akhir perjuangan kuliah saya di UNESA, ayah saya menghadapi sakitnya semakin lama semakin parah. Ayah semakin tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kecuali harus dibantu oleh ibu, termasuk harus mandi dan harus ke wc. Saya dan adik saya, Neni masih kuliah dan harus berjuang untuk menyelesaikannya—tidak bisa membantu ibu untuk merawat ayah yang sedang sakit.

Bacaan Lainnya

Kondisi ayah tidak bisa bekerja lagi. Ibu harus berjuang dengan keras dan tanpa ampun memperlakukan dunia dengan sangat penuh semangat. Beruntung ayah tidak lemah mentalnya dan tetap memberikan dorongan kepada ibu saya untuk tetap semangat menghadapi tantangan hidupnya.

“Bu’, kita tidak mempunyai warisan apa-apa yang diberikan kepada anak-anak, kita juga tidak mempunyai usaha besar untuk menompang kehidupan mereka dan kita juga tidak bisa memegangi apa-apa yang bisa membuat mereka hidup lebih baik dari pada orang tuanya.” Ayah saya berkata kepada ibu saya, ketika sedang duduk-duduk menjelang tidurnya.

“Tapi bu’, kita masih punya anak-anak yang semangat belajarnya. Kewajiban kita adalah mendidik mereka dan membekali mereka dengan pembekalan pendidikan yang baik. Karena hanya ilmu yang mereka milikilah mereka bisa menghadapi dunianya dan bisa membangun kehidupannya menjadi lebih baik.”

Mendengar kata-kata ayah saya, ibu saya menangis bahagia-terenyuh-terharu. Hatinya terkuatkan dan merasa mendapatkan dorongan untuk terus menemani ayah. Maklum, secara usia, ibu saya pantas sekali menjadi putrinya ayah saya, karena pernikahan beliau berdua direntangkan oleh jarak usia dua puluh tahun lebih. Sehingga ayah saya lebih bijaksana dalam menasehati ibu saya dan lebih bisa ‘mengemong’ ibu saya menjadi istrinya.

Ibu saya, secara pendidikan juga kalah dengan ayah, sehingga ayah harus lebih banyak mendidik ibu saya dalam segala hal, termasuk mengajari membersihkan rumah, mengatur perabotan rumah dan bahkan memasak. Semua yang diperoleh dari ibu saya merupakan pengajaran yang diberikan oleh ayah saya.  

“Kita sudah punya apa-apalagi ayah, hari ini uang belanja saja sudah menipis dan tidak bisa digunakan untuk membeli beras!” kata ibu saya menyahut kata-kata ayah saya. “Apa tidak lebih baik menggunakan dahulu uang jatah kirimannya Neni dan Fath?” 

“Jangan bu’. Uang jatah pendidikannya anak jangan diambil, nanti kita kesulitan untuk mengembalikannya dan anak-anak akan menjadi korbannya.” Jawab ayah saya. “Ibu’ harus tahu, pendidikan anak lebih utama dan lebih prioritas dari pada belanja kita.”

Ibu’ saya menangis, mungkin ingat dengan anak-anaknya yang masih kuliah dan meratapi hidupnya yang berat, serta cobaan yang sangat menguras tenaganya. “Lalu apa yang kita makan hari ini, Yah. Uang belanjanya dari mana?”

“Itu ada beberapa tabung gas LPG. Coba jual barang-barang itu, beberapa saja, siapa tahu ada yang membelinya dan ada sedikit uang yang bisa kita gunakan beberapa hari.!” Jawab ayah saya.

Ibu saya pun mengambil beberapa tabung gas LPG yang seharusnya menjadi stok jualan orang tua saya, yang harus ditukar dengan orang yang akan membeli gas-nya. Namun bagaimana lagi harus bertindak, beliau berdua tidak punya apa-apa lagi dan harus menjual barang untuk dijualnya.

Kerja keras dan memperlakukan dunia dengan keras harus dilakukan. Ibu saya pun melakukan itu dan bergerak menuju ke tetangga rumah di Penanjan yang kaya, agar mau membeli tabung gas tersebut.  

Dan alhamdulillah, perjuangan ibu berhasil. Ibu berhasil menjual beberapa tabung gas LPG kepada beberapa tetangga yang kaya dan memang membutuhkan tabung tersebut. Dari penjualan itu ibu bisa mendapatkan uang Rp. 500.000 rupiah, dan bisa menyambung hidup dengan lebih baik pada hari-hari berikutnya.

Ibu saya menelpon saya, dan menceritakan semuanya kepada saya.

Taklama kemudian, ibu mengirim uang jatah pembayaran kuliahnya Neni, dan saya mendapatkan uang jajan saya bulanan, Rp. 1.500.000 rupiah. Uang itu sudah cukup banyak bagi saya untuk menyambung hidup di Surabaya—yang biaya hidupnya memang terjangkau. (Siti Fatkhiyatul Jannah)

Pos terkait