Kekayaan Alam Tidak Menjamin Kemajuan Suatu Negara, Justru Sebaliknya Menghasilkan Kemiskinan dan Pemerintahan yang Korup

Kekayaan Alam Tidak Menjamin Kemajuan Suatu Negara, Justru Sebaliknya Menghasilkan Kemiskinan dan Pemerintahan yang Korup
Melimpahnya kekayaan alam suatu wilayah belum tentu bisa mendorong kemajuan dan kesejahteraan bagi penduduknya. Sebaliknya, suatu wilayah yang miskin dan kekurangan sumberdaya alam bisa jadi lebih siap untuk menjadi negara maju dengan kerja keras dan upaya-upaya kreatif untuk tetap bertahan hidup.

JAGATKITASAMA.COM – Secara teoretis, mestinya ketersediaan sumber daya alam yang melimpah akan menunjang pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dengan banyaknya sumberdaya alam di daratan dan lautan, serta udara bisa jadi suatu negara akan “mendadak kaya” dan bisa mensejahterahkan penduduknya.

Faktanya hal itu tidak terjadi, alias pada kenyataannya tidak ada kemakmuran yang diperlihatkan oleh negara-negara dengan sumberdaya alam yang melimpah. Justru sebaliknya, negara-negara yang kaya sumberdaya alam akan menjadi negara miskin dan mentok berada di status negara berkembang, seperti halnya negara merah putih.

Bacaan Lainnya

Negara-negara di dunia yang kaya akan sumber daya alamnya sering kali tingkat pertumbuhan ekonominya terbilang rendah. Tingkat kemiskinannya tinggi, buruh murah melimpah, kelaparan kadang terjadi dengan marak, kreativitas terhenti, dan cenderung terbentuk oknum-oknum penguasa yang “kemaruk” dengan sumberdaya alam tersebut—untuk dirinya sendiri.  

Selain itu, negara-negara yang kaya dengan sumber daya alam juga cenderung tidak memiliki teknologi yang memadai dalam mengolah kekayaan alamnya. Mereka tidak mau berkerja keras, karena sudah merasa “aman” dengan banyaknya ketersediaan sumberdaya makanan yang ada di sekitarnya. mereka menjadi cenderung malas dan tidak mau berkerja keras mengelola alam sebagai bagian penting bagi keberlangsungan hidup bersama.

Negara kaya sumberdaya alam lebih suka “menjual bahan mentahnya” ke negara lain yang sudah memiliki kemajuan industri. Mereka tidak mampu menciptakan pabrik-pabrik untuk mengelola bahan baku dasar yang dimilikinya. Mereka enggan untuk berkreasi, Pendidikan lemah, pengetahuan rendah dan tidak bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi warganya.

Di negara yang kaya sumberdaya alam, di sana korupsi merajalela dan perang saudara terjadi di mana-mana. Semua itu membuat pemerintahnya lemah dan demokrasinya tidak berkembang. Kondisi semacam inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lambat.

Orang-orang hanya sibuk berkonflik dan sibuk mengeruk bagian-bagian dari ketersediaan sumberdaya alam di wilayahnya. Perang biasa terjadi akibat dari rebutan akses kekayaan dan pengelolaan sumberdaya alam yang ekstraktif itu dengan penuh kekerasan.

Itulah konsep ekonomi Dutch Disease. Para peneliti sebal mengakuinya, tetapi sayangnya beberapa kajian yang dilakukan oleh sejumlah ekonom dan sebagian besar diterbitkan dalam bentuk buku-seolah-olah juga membuktikan kebenaran konsep tersebut. Misalnya, makalah yang ditulis oleh Jeffrey D. Sachs dan Andrew M. Warner (2001) dengan jelas telah menceritakan paradoks sumberdaya alam dan negara maju itu.

Pada makalah tersebut, keduanya mengajukan dua pokok pikiran. Pertama, hasil pengamatan mereka menunjukkan bahwa hampir tak ada irisan antara negara-negara yang kaya sumber daya dengan negara-negara yang Produk Domestik Bruto-nya (PDB) tinggi. Contohnya, Singapura, Korea Selatan, atau Taiwan adalah negara-negara dengan PDB tinggi, tetapi mereka miskin sumber daya alam, dan sangat terbatas kekayaan alamnya yang bisa dikelola.

Di sisi lain, ada negara seperti Venezuela, Nauru, Liberia, atau Zambia yang kaya dengan sumber daya alam, tetapi PDB-nya rendah. Kekayaan alam negara-negara tersebut terhitung melimpah dan sangat banyak, tapi mereka malah menjadi bangsa pemalas dan hanya mengandalkan kekayaan alam yang dimilikinya sendiri untuk dinikmati sampai habis.

Artinya, melimpahnya kekayaan alam suatu wilayah belum tentu bisa mendorong kemajuan dan kesejahteraan bagi penduduknya. Sebaliknya, suatu wilayah yang miskin dan kekurangan sumberdaya alam bisa jadi lebih siap untuk menjadi negara maju dengan kerja keras dan upaya-upaya kreatif untuk tetap bertahan hidup. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait