Sebanyak 378 Anak Muda (Calon Maba) Menemukan “Solusi Masa Depan” Bersama ITB Tuban

Sebanyak 378 Anak Muda (Calon Maba) Menemukan “Solusi Masa Depan” Bersama ITB Tuban
378 orang calon mahasiswa baru sedang berkumpul di halaman ITB Tuban untuk melaksanakan apel pagi sebelum memulai ujian tes penjurusan. Sebagian besar mahasiswa baru ini datang dari berbagai penjuru di Tuban, Rembang, Gresik dan Lamongan, mereka bersiap membangun masa depannya bersama ITB dan menyakini jika pilihan mereka adalah "pilihan yang benar".

TUBAN.JAGATKITASAMA.COM – Masa depan harus direbut dan dibentuk, tidak sekedar diikuti dan dijalani sebagaimana adanya. Masa depan merupakan bentukan hari ini dan beragam tumpukan “kegiatan” yang terakumulasi dalam rangkaian kehidupan yang berjalan berkelanjutan. Dan Masa depan merupakan bagian penting bagi pemuda, pelajar, calon ilmuwan dan praktisi yang haus akan pengalaman dan pengetahuan untuk menatap hal-hal baru dan menantang dihadapan matanya.

Sebanyak 378 orang pelajar yang berangkat dari seluruh wilayah kecamatan di Tuban, Lamongan, Gresik dan Rembang berangkat ke Tuban di tengah-tengah rindangnya desa Jetak-Montong, untuk menentukan masa depannya dengan mengikuti ujian tes penjurusan. Pelajar-pelajar yang datang dari penjuru kabupaten Tuban dan sekitarnya itu “menempuh jalan” untuk kemampuan dan bakatnya agar sesuai dengan jurusan Pendidikan yang dipilihnya.

Bacaan Lainnya

Mereka bukanlah anak-anak muda yang nganggur—tanpa kegiatan produktif, bukan pula anak-anak muda yang “tidak punya visi”, dan bukan pula anak-anak “yang asal kuliah”, tapi deretan pelajar yang berprestasi di bidangnya—di masing-masing sekolahnya, yang tertarik membangun masa depannya bersama ITB Tuban. Mereka yakin jika ITB Tuban merupakan solusi bagi masa depannya yang memberikan banyak kesempatan untuk menggali “wawasan masa kini”, menumpuk “pengetahuan masa lalu” dan membangun “pemikiran masa depan.”

“Saya menentukan pilihan di ITB Tuban bukan asal pilih dan asal kuliah, tapi saya melihat masa depan saya bisa saya bangun disini dan bisa saya mulai dengan pelan di kampus baru Tuban ini.” Tegas Kawakib Murdiono, pemuda asal Palang yang memilih pilihan jurusan desain grafis dan kewirausahaan.  

Pelajar yang gemar menggambar ini melanjutkan, bahwa “Saya tahu jika ITB adalah kampus baru, tapi usia pendek tidaka menentukan baik-buruknya sebuah kampus, hanya prestasi dan konsistensi-lah dalam proses Pendidikan-lah yang menentukan sisi kebaikan sebuah kampus. Saya berijtihad, bahwa semua itu bisa saya temukannya di ITB.”

Sebanyak 387 orang mahasiswa baru merupakan rekrutan pendaftaran gelombang pertama dan kedua, masih akan dibuka pendaftaran pada gelombang ketiga. “Biasanya, pada pendaftaran gelombang yang ketiga inilah calon mahasiswa baru akan membeludak jumlah dan akan terus bertambah, biasanya akan diperebutkan oleh anak-anak berprestasi dan cerdas yang kalah beruntung dalam pertarungan masuk di kampus di luar Tuban.” Kata Pak Rofi’uddin, salah satu pengurus Yayasan yang menaungi ITB Tuban.

Di ITB Tuban tidak sekedar kuliah

Memang tidak sekedar kuliah, di ITB para mahasiswa baru siap untuk mengambil “kesempatan” yang hilang, yang akan “diperbaikinya” dengan melakukan rangkaian pembelajaran di ITB Tuban. Karena dengan belajar di ITB Tuban mereka akan merasakan “nuansa baru” dalam menghadapi kehidupannya, terutama untuk menghadapi tantangan kehidupan “yang semakin tidak menentu” dan perjuangan yang melelahkan mengarungi jalannya perjalanan usia muda.

Usia muda akan sangat eman jika dibiarkan tanpa ada perjalanan intelektual, tanpa disertai dengan petualangan keilmuan dan tidak disertakan pada kegiatan yang positif, alih-alih menghasilkan generasi “yang merepotkan negara” dan menghasilkan “manusia-manusia gagal”.

Usia muda merupakan sebuah peralihan yang sangat menentukan setiap pengalaman orang, yakni bisa menjadikan pijakan masa depan semakin bisa—dibisakan “terbaca”, menjalin relasi dan hubungan bersahabatan—sehingga memperluas jaringan, dan sekaligus menengok luasnya dunia yang tidak hanya dikepung oleh kejamnya tehnologi hiburan media virtual—tiktok, Instagram, facebook dan sebagainya.   

Anak-anak muda yang datang ke TIB Tuban sadar jika menentukan pilihan belajar di ITB merupakan “jalan yang benar” untuk melihat masa depannya, antara siap menghadapinya atau mundur dan hanya pasrah pada keadaan yang tidak menentu.

Memilih ITB Tuban tentunya disertai dengan pertimbangan yang mantap, pemikiran yang jernih dan renungan yang mendalam, apakah datang jauh-jauh ke kampus di tengah-tengah perdesaan Tuban adalah pilihan?

Jelas sebuah pilihan yang tidak sekedar memberikan “pilihan” asal kuliah, tapi disertai dengan obsesi masa depan yang penuh keberkahan, pemahaman terkait Riwayat kamupus yang “menyenangkan” dan “sejarah kecil” kampus yang sangat menggembirakan walau baru berusia tiga tahun—belum memiliki sarjana yang diwisudakannya.

Perjuangan empat tahun bisa saja masih panjang dan bisa pula sangat pendek, tergantung setiap mahasiswa memandangnya. Namun yang jelas para mahasiswa baru sebanyak 378 orang tidak diperbolehkan lengah dalam menyambut hari-harinya, untuk mengisi waktu empat tahun di ITB Tuban dengan hari-hari yang berharga, penuh tantangan, dinaungi keseriusan, dan tanpa tersandung “kegagalan” yang merusak.  

Dewasa ini (saya melihat dan merasakan jika) masa depan tidak ditentukan oleh teritorial, wilayah perdesaan atau perkotaan, karena dunia yang semakin terhubung dan men-global telah membentuk kedekatan setiap orang di seluruh dunia dan menghilangkan batas-batas negara tempatnya tinggal—apalagi batas desa dan kota (semakin tipis).

Kelahiran internet telah “menghancurkan” batas komunikasi, batas nasib, dan batas ras-suku-agama—karena semua orang bisa terhubung dengan cepat dan lebih produktif melalui banyak konten dan aplikasi.

Benar adanya jika ITB Tuban berada di tengah-tengah Tuban yang masih perdesaan, tapi saya yakin dalam waktu sepuluh tahun ke depan Montong akan lebih berkembang sama halnya dengan kota Tuban di utara Bumi Wali. Montong akan lebih ramai dan lebih banyak dikunjungi orang, sehingga memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat Tuban, sebab hadirnya ITB Tuban di kecamatan asli kelahiran Bupati pendiri “Bumi Wali” ini.

Kepada kesemua 387 mahasiswa baru di ITB Tuban, selamat menatap masa depan di kampus baru itu, dan perkuat-lah mental kalian untuk menghadapi kehidupan kalian sendiri menjadi lebih kokoh dan keras. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait