Terjebak Cinta Beda Usia; Sebuah Pengalaman Pahit Seorang Guru (Part-1)

Terjebak Cinta Beda Usia; Sebuah Pengalaman Pahit Seorang Guru (Part-1)
Pada suatu malam Aku melihat gadis itu di halte seperti biasa, namun sebelum ada bus yang lewat, tiga orang preman menghampirinya, dan sepertinya mereka sedang menggoda gadis itu, segera Aku menghampiri dan menolongnya.

JAGATKITASAMA.COM – Kali ini Aku mau menghabiskan masa liburanku di Jogja, sebelum Aku harus kembali lagi masuk sekolah dan duduk dikelas XII, di jogja Aku tinggal di rumah Oma. Suatu malam ketika lagi bosan di rumah, Aku minta ijin Oma untuk keluar jalan-jalan dan Oma mengijinkan.

Setelah jauh berjalan pandanganku tertarik pada seorang gadis di seberang jalan, yang sedang duduk manis di halte bus, wajahnya  begitu samar kulihat, karena memang lampu jalan tak begitu terang. Lima menit kemudian sebuah bus datang dan berhenti di sana, beberapa orang turun dari bus, sementara Aku tak bisa melihat keberadaan gadis itu karena terhalang bus. Sesaat kemudian bus itu meluncur melanjutkan perjalanannya, dan gadis tadi sudah tak terlihat lagi di sana, mungkin Ia sudah naik.

Bacaan Lainnya

Kejadian itu terus berulang untuk kesekian kalinya, entah mengapa hatiku begitu tertarik untuk mengikutinya, ingin Aku mengenalnya namun selalu gagal, karena terhalang oleh bus yang lewat.

Pada suatu malam Aku melihat gadis itu di halte seperti biasa, namun sebelum ada bus yang lewat, tiga orang preman menghampirinya, dan sepertinya mereka sedang menggoda gadis itu, segera Aku menghampiri dan menolongnya.

“Hai..lepaskan dia.” pintaku pada preman-preman itu. “Jangan ikut campur kamu.”

Mereka pun menyerangku, untung Aku bisa beladiri, jadi Aku menumpas preman-preman itu, hingga membuat mereka berlari.

“Kamu enggak….” perkataanku terputus saat melihat gadis itu sudah tak ada di tempat, ke mana dia pergi? Ku lihat sekeliling namun tak ada jejak.

Sejak kejadian malam itu, Aku tak pernah lagi melihat gadis itu di sana, sampai tiba saatnya Aku harus kembali ke tempat asalku.

Hari pertama masuk sekolah dimulai, dengan menaiki motor Aku berangkat, sampai disekolah  segera Kuberlari mencari kelas baruku, tepat saat masuk kelas bel pun berbunyi.

Suasana kelas nampak sunyi saat seorang guru memasuki ruangan Pak Gatot, guru yang killer banget disekolah ini. “Selamat pagi anak-anak,” sapa pak Gatot, semua seisi ruanganpun membalas. “Pagi Pakk…..”

“Hari ini, ada guru baru yang akan mengajar disini, sekaligus menjadi wali kelas kalian, bu Amara, silakan masuk bu.”

Seorang wanita dengan beberapa buku ditangannya memasuki  ruang kelas, ku pandangi wajah guru baruku itu, rasanya tidak asing, tapi siapa? Dimana Aku pernah melihat wajah itu. Semakin Aku memikir, semakin Aku tidak bisa mengingatnya.

Bel jam pelajaran pertama berbunyi, bu Amara keluar kelas, karena penasaran ku ikuti dia.

“Permisi bu..”

Bu Amara menghentikan langkahnya, Ia menoleh kearahku. “Ya, ada apa?”

“Maaf bu..sepertinya Saya pernah melihat ibu sebelumnya.”

“Oh, ya. Dimana?”

“Entahlah bu..Saya lupa.”

Bu Amara tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, mungkin dia pikir Aku sedang menggodanya atau mengira dia adalah orang lain. Bu Amara kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang guru.

Malam ini Aku sulit sekali untuk memejamkan mata, bayangan wajah bu Amara terus mengusikku. Aku harus bisa mengingatnya kembali, kemana Aku pernah melihat dia, tapi percuma saja sampai pagi tiba, Aku masih belum juga mengingatnya.

Sehabis mandi saat hendak mengambil seragam dilemari gantung, tiba-tiba sesuatu terjatuh dari lemari bagian atas,  segera Aku mengambilnya, oh..sebuah foto saat diriku berlibur dijogja, ku letakkan foto itu dimeja belajar.

Saat mengambil tas sekolah, kupandangi lagi fotoku itu sebelum Aku bener-bener berangkat sekolah.

Di tengah jalan, kumelihat beberapa orang menunggu dihalte, saat itulah Aku ingat kemana Aku pernah melihat bu Amara sebelumnya.

Bel istirahat berbunyi, kuikuti bu Amara dari belakang ketika keluar dari kelas. “Tunggu bu Amara.” kataku menghentikan langkah bu Amara.

“Ada apa lagi Aldo?”

“Saya ingat, dimana Saya pernah melihat ibu sebelumnya.”

“Dimana?”

“Dihalte bus.”

Ku melihat wajah bu Amara berubah jadi cemas.

“Halte bus?” bu Amara mencoba membuat Aku bingung.

“Iya, tiap malam Saya selalu melihat ibu dihalte.”

“Maksud kamu?”

“Jadi..saat dijogja kemarin, Saya  melihat ibu dihalte, terakhir  ada beberapa preman yang mengganggu….”

“Aldo..maaf Saya masih banyak tugas, dan mungkin yang kamu lihat itu orang lain.”

Aku terdiam mendengar penjelasan bu Amara, rasanya tidak mungkin kalau yang Aku lihat itu orang lain. bersambung ……..(Arinal Haqiqoh)

Pos terkait