Terjebak Cinta Beda Usia; Sebuah Pengalaman Pahit Seorang Guru (Part 2)

Terjebak Cinta Beda Usia; Sebuah Pengalaman Pahit Seorang Guru (Part 2)
Aku pun mengikutinya dari belakang, entah hukuman apalagi yang akan Ia berikan padaku, membersihkan toilet? atau menyapu halaman sekolah? hanya karena telat masuk kelas, apa masih belum puas dengan membuat Aku berdiri didepan tadi.

JAGATKITASAMA.COM – Kulihat bu Amara keluar dari ruangannya dan mendekati pak bon yang lagi menyiram bunga dihalaman sekolah, entah apa yang sedang mereka perbincangkan, seakan bu Amara sedang meminta pertolongan pada pak bon. Saat bu Amara pergi Aku menghampiri pak bon.

“Bu Amara kenapa pak?”

Bacaan Lainnya

“Cuma minta tolong untuk membelikan sarapan dikantin.”

“Kalau begitu, biar Saya yang membelikannya pak.”

“Apa tidak merepoti?”

“Sama sekali tidak pak.”

Akupun pergi kekantin untuk membelikan pesanan bu Amara.

“Aldo, ada apa?” tanya bu Amara saat Aku memasuki ruangannya. Aku berikan makanan yang Aku beli tadi dikantin.

“Kok Kamu? bukannya tadi Saya nyuruh pak bon!”

“Saya yang meminta pak bon bu.”

“Letakkan saja disini, nanti Saya akan memakannya.”

“Sebenarnya, ada yang ingin Saya tanyakan sama Ibu.”

“Soal apa?”

“Kemarin?”

“Soal wanita yang kamu lihat dihalte?”

Aku mengangguk, tapi bu Amara masih menyangkal kalau itu bukan dirinya.

“Harus berapa kali Saya bilang, kalau itu bukan Saya, dan sampai kapan Kamu akan tanya soal itu terus?”

“Sampai ibu bilang iya.”

Jawabku lancang, karena Aku yakin sekali kalau yang Aku lihat itu bener-bener dia.

***

Hari ini Aku malas sekali untuk berangkat sekolah, mungkin bu Amara masih marah padaku, karena sudah berani berkata lancang padanya.

Kulihat bu Amarah sudah mengajar dikelas, Aku berdiri didepan pintu. Ia melihatku terlambat masuk kelas.

“Kemana saja Kamu Aldo? kenapa baru datang?”

Aku hanya terdiam mendapat pertanyaan itu.

“Kenapa Kamu terlambat Aldo?”

Aku masih terdiam, mulutku rasanya terkunci untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ku langkahkan kakiku mendekatinya, Ia memandangiku penuh heran.

“Saya tidak mau ada yang terlambat lagi saat pelajaran Saya, Aldo berdiri Kamu disini.”

Kuturuti kemauannya untuk berdiri dusamping papan tulis, hingga pelajarannya berakhir.

“Aldo, ikut Saya kekantor.”

Aku pun mengikutinya dari belakang, entah hukuman apalagi yang akan Ia berikan padaku, membersihkan toilet? atau menyapu halaman sekolah? hanya karena telat masuk kelas, apa masih belum puas dengan membuat Aku berdiri didepan tadi.

“Aldo, Saya tanya sekali lagi sama Kamu, kenapa Kamu terlambat?”

Tanya bu Amara saat kita sudah sampai diruang guru, tidak ada guru lain disana, mungkin mereka masih mengajar. Aku masih saja membisu untuk menjawab pertanyaan itu.

***

“Aldo..kenapa Kamu tidak menjawab pertanyaan Saya?”

“Haruskah Saya menjawab pertanyaan ibu? sementara ibu tak pernah menjawab pertanyaan Saya.”

“Aldo, Kamu!!”

“Saya cuma butuh kejujuran dari Ibu.”

Segera Aku meninggalkan ruang guru, sebelum guru-guru yang lain datang. Ada rasa menyesal dalam hatiku, karena sudah begitu keterlaluan pada guruku.

Keesokan harinya, saat jam pelajaran berakhir, Ku tunggu bu Amara sampai keluar dari kantor, beberapa menit kemudian, Ia keluar Akupun menghampirinya.

“Bu Amara!”

Ia menatapku, seakan tidak ada maaf untukku.

“Saya cuma mau minta maaf, karena kemarin Saya sudah keterlaluan, tak seharusnya Saya bicara kasar pada Ibu.” lanjutku, tulus dari hati meminta maaf padanya, tak ada reaksi dari bu Amara,

Ia hanya menatapku tajam. Ku balikkan badanku, mungkin Aku memang tidak pantas untuk mendapat maaf.

“Aldo!!” panggilnya, sebelum Aku melangkah jauh darinya, Ku tatap wajahnya dan Kulihat ada banyak tanda tanya disana.

“Bisa Kita bicara sebentar?” lanjutnya lagi, Aku mengangguk. Bu Amara mengajakku ketaman sekolah, Ia berkata kalau gadis maksudku wanita yang kulihat dihalte itu benar dirinya, tapi dengan alasan apa, Ia tak bisa menjelaskan.

***

Semakin hari Aku semakin dekat dengan bu Amara, Aku sering membantunya membawakan buku  tugas kekantor, atau mengambil beberapa buku paket keperpustakaan.

Hal ini membuatku jatuh cinta padanya, tak peduli berapa umurnya, dan Aku yakin kalau dia masih sigle.

Kututupi perasaan ini, sampai bener-bener Aku punya waktu yang pas untuk mengungkapkannya.

Sampai masa berakhirnya ujian nasional, Aku masih memendam perasaan ini, hingga tiba saatnya waktu sekolah mengadakan tour kelas XII sebelum menjelang perpisahan. Ku tarik tangan bu Amara pergi ketempat jauh dari anak-anak.

“Aldo! ada apa?”

“Ada yang ingin Saya katakan sama ibu.”

“Tapi tidak harus menarik tangan Saya juga kan!”

“Maafkan Saya bu.”

“Ya udah, sekarang bicaralah apa yang ingin Kamu katakan?”

Aku menunduk lama, berat rasanya untuk mengungkapkan perasaan ini.

“Aldo…” Bu Amara memegang pundakku, Aku menatap wajahnya.

“Bu…mungkin Saya sudah gila, tapi itulah yang terjadi.”

“Kamu ngomong apa sih Do..”

“Saya tidak tahu mesti memulai dari mana, kalau Saya…”

Aku tak mampu melanjutkan kata-kata ku, mungkin bu Amara penasaran, tapi Ia mencoba menutupinya.

“Aldo…jika memang ini bukan waktu yang tepat, bisa lain kali Kamu mengatakannya.”

“Saya suka sama Ibu.”

Bu Amara menghentikan langkahnya, saat Kucoba mengungkapkan perasaanku. BERSAMBUNG ….(Arinal Haqiqoh)

Pos terkait